Flickta, TikTok mengambil langkah mengejutkan dengan menonaktifkan fitur Live untuk seluruh pengguna di Indonesia. Kebijakan ini diambil buntut dari maraknya aksi kekerasan yang disiarkan secara langsung saat demonstrasi politik akhir Agustus 2025.
Keputusan ini langsung memicu perdebatan publik. Sebagian mendukung karena dianggap penting demi keamanan digital, sementara sebagian lain menilai langkah tersebut merugikan kreator konten dan membatasi kebebasan berekspresi.
TikTok Live selama ini menjadi salah satu fitur favorit pengguna. Dengan lebih dari 125 juta pengguna aktif di Indonesia, fitur ini bukan hanya wadah hiburan, tetapi juga sumber informasi real-time dan sarana mencari penghasilan. Banyak kreator yang menggantungkan pendapatan dari hadiah virtual penonton saat siaran langsung.
Namun, belakangan, fitur Live digunakan untuk menyiarkan aksi demonstrasi yang berujung ricuh. Tak jarang, konten tersebut mengandung kekerasan, ujaran kebencian, hingga provokasi massa.
Melihat eskalasi itu, TikTok Indonesia memilih menutup sementara TikTok Live demi mencegah penyebaran konten yang berpotensi memperburuk situasi.

Dampak bagi Pengguna
Penonaktifan ini membawa sejumlah konsekuensi:
- Kreator Kehilangan Mata Pencaharian
Banyak kreator mengandalkan Live sebagai sumber utama penghasilan. Dengan penutupan fitur ini, mereka harus mencari alternatif lain, seperti membuat konten video pendek reguler atau beralih ke platform lain. - Publik Kehilangan Akses Informasi Real-Time
TikTok Live sering digunakan untuk menyiarkan peristiwa secara langsung, mulai dari konser hingga bencana alam. Kini, publik kehilangan salah satu sumber informasi cepat non-mainstream. - Pergeseran ke Platform Lain
Sebagian pengguna mulai pindah ke Instagram Live, YouTube Live, atau Twitter/X untuk tetap bisa menyiarkan peristiwa.
Respons Pemerintah dan Publik
Pemerintah Indonesia melalui Kominfo menyambut baik langkah TikTok. Menurut mereka, kebijakan ini sejalan dengan upaya menekan penyebaran hoaks dan konten provokatif di masa sensitif.
Namun, dari sisi masyarakat, responsnya beragam.
- Pendukung menilai ini langkah tepat demi menjaga ketertiban digital.
- Penentang menuding TikTok tunduk pada tekanan politik, sehingga publik kehilangan kebebasan untuk menyampaikan informasi dan opini.
Tagar #SaveTikTokLive bahkan sempat trending di Twitter/X sebagai bentuk protes dari para kreator.
Kasus ini menunjukkan dilema klasik media sosial: antara kebebasan berekspresi dan keamanan digital. Di satu sisi, moderasi ketat diperlukan untuk mencegah konten berbahaya. Di sisi lain, penutupan total berpotensi mengorbankan kreativitas dan hak publik untuk mendapatkan informasi.
Solusi jangka panjang seharusnya bukan sekadar menutup fitur, melainkan memperkuat moderasi konten real-time dengan teknologi AI, memperbesar tim kurasi lokal, serta meningkatkan edukasi etika digital bagi pengguna.
Penutup
Penonaktifan TikTok Live di Indonesia adalah pengingat bahwa ekosistem digital sangat dipengaruhi oleh dinamika sosial-politik. Jika tidak ada keseimbangan antara keamanan dan kebebasan, ruang digital bisa berubah menjadi bumerang bagi penggunanya sendiri.
Kini, semua pihak pemerintah, platform, dan masyarakat ditantang untuk mencari jalan tengah agar ruang digital Indonesia tetap aman, terbuka, dan produktif.
