Technology

Penyelidikan Kanada Temukan TikTok Kumpulkan Data Anak di Bawah Umur, Dituduh Kurang Proteksi Privasi

Flickta.com – 24 September 2025


Pemerintah Kanada, melalui komisioner untuk privasi dari tingkat federal dan provinsi (Quebec, British Columbia, Alberta), baru saja merilis hasil penyelidikan terhadap TikTok yang mengejutkan: aplikasi berbagi video populer ini dianggap gagal melindungi anak-anak di bawah umur, meskipun secara publik menyatakan bahwa layanan mereka tidak ditujukan untuk pengguna di bawah 13 tahun. Investigasi menemukan bahwa ratusan ribu anak masih dapat mengakses TikTok tiap tahun, dan data pribadi mereka dikumpulkan dan digunakan untuk menargetkan konten serta iklan.


Latar Belakang Penyelidikan

Penyelidikan gabungan dimulai pada tahun 2023, dipimpin oleh Office of the Privacy Commissioner (OPC) Kanada bersama badan privasi di Quebec, British Columbia, dan Alberta. Tujuannya adalah menilai bagaimana TikTok mengelola data anak-anak dan sejauh mana mereka menerapkan syarat usia, menjaga data anak, serta transparansi dalam praktik pengumpulan data.

Meskipun TikTok menyatakan layanan mereka tidak untuk anak di bawah 13 tahun, kenyataannya anak-anak di bawah usia tersebut tetap bisa membuat akun dan mengakses platform. Data yang dikumpulkan meliputi data yang diberikan pengguna (contoh: tanggal lahir, lokasi), data perangkat (IP address, GPS, model perangkat), perilaku pengguna dalam aplikasi (apa yang ditonton, suka, komentar, durasi menonton), bahkan data biometrik seperti fitur wajah dan suara.


Temuan Utama

Beberapa hal pokok yang diungkap dari laporan penyelidikan:

  • Akses Anak di Bawah Usia: Ratusan ribu anak Kanada menggunakan TikTok meskipun perusahaan menyatakan tidak mengizinkan pengguna di bawah 13 tahun.
  • Pengumpulan Data Sensitif: Anak-anak tidak hanya menonton konten, tapi data perangkat, lokasi, perilaku menonton, kontak perangkat, hingga profil sosial lainnya. Termasuk pengumpulan data biometrik seperti fitur wajah (facial analytics) dan suara.
  • Profiling & Penargetan Iklan: Data yang dikumpulkan digunakan untuk memprofil pengguna, termasuk anak-anak, agar konten dan iklan yang ditampilkan sesuai dengan preferensi atau perilaku mereka. Praktik ini menimbulkan kekhawatiran bahwa anak-anak bisa terpapar konten iklan atau konten sensitif yang tidak sesuai usia mereka.
  • Kurangnya Izin & Transparansi: Pengguna, dan terutama anak-anak dan orang tua mereka, tidak mendapatkan pemahaman yang memadai tentang bagaimana data dikumpulkan dan digunakan. Kebijakan privasi dan dokumentasi terkait dipandang sulit diakses dan kurang jelas.

Respons TikTok dan Komitmen Perubahan

Menanggapi hasil penyelidikan, TikTok menyatakan komitmennya untuk memperbaiki berbagai aspek yang dianggap kurang. Berikut langkah-langkah yang disetujui sebagai hasil rekomendasi:

  • Memperkuat metode verifikasi usia (age-assurance) agar lebih efektif dalam mencegah anak di bawah umur mengakses platform.
  • Meningkatkan transparansi terkait penggunaan data, terutama untuk pengguna muda: memperjelas cara data dikumpulkan, diproses, dan digunakan, serta bagaimana pengguna bisa mengakses atau mengontrol data mereka sendiri.
  • Membatasi target iklan: TikTok sepakat agar iklan yang ditargetkan bagi pengguna di bawah usia 18 tahun hanya berdasarkan kategori yang sangat umum seperti lokasi perkiraan dan bahasa, bukan profil perilaku yang sangat terperinci.
  • Menambah informasi privasi yang lebih mudah diakses dalam dua bahasa (Inggris dan Prancis), termasuk hak-hak pengguna untuk memperbarui, menghapus, atau meminta informasi tentang apa yang disimpan tentang mereka.

Meskipun TikTok menyetujui banyak rekomendasi, para pengawas privasi Kanada menilai bahwa soal keselamatan anak-anak di platform tersebut masih “kondisional diselesaikan” dan akan terus dimonitor.


Implikasi dan Dampak bagi Anak-Anak

Temuan ini bukan hanya menjadi catatan di Kanada. Ada sejumlah risiko nyata jika anak-anak di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menggunakan aplikasi seperti TikTok dengan perlindungan yang kurang:

  1. Eksposur terhadap konten tidak sesuai usia
    Tanpa kontrol usia yang efektif, iklan atau video yang tidak cocok bisa tampil di feed anak-anak. Ini bisa termasuk materi yang terlalu dewasa, iklan produk-dewasa, atau konten yang bisa mempengaruhi citra tubuh dan kesehatan mental.
  2. Privasi yang tergerus
    Pengumpulan data biometrik, lokasi, bahkan kontak dan aktivitas perangkat bisa digunakan untuk membuat profil perilaku. Risiko ini termasuk penyalahgunaan data atau kebocoran yang mengancam keamanan dan identitas anak.
  3. Iklan yang menyesatkan atau manipulatif
    Iklan yang ditargetkan bisa mendorong pembelian dalam aplikasi, konten permainan, atau produk yang tidak sesuai usia. Anak-anak bisa mudah terpengaruh karena kurangnya penilaian kritis terhadap pesan iklan.
  4. Kesehatan mental & perkembangan pribadi
    Paparan konten yang menekankan penampilan, kesuksesan instan, atau stereotip bisa membentuk persepsi tidak sehat tentang diri sendiri. Evaluasi konten dan pengalaman media menjadi aspek penting perkembangan anak.

Perbandingan Internasional

Kasus Kanada ini bukan yang pertama. Beberapa negara dan wilayah sudah memantau atau menindak TikTok dan perusahaan sejenis terkait privasi dan perlindungan anak:

  • Uni Eropa pernah mendenda TikTok sebesar €345 juta karena pelanggaran privasi anak, terutama pengaturan default akun publik, verifikasi usia, dan fitur “Family Pairing”.
  • Di Amerika Serikat, Departemen Kehakiman (Justice Department) dan Federal Trade Commission (FTC) pernah menggugat dan menyelidiki TikTok atas dugaan pelanggaran Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA), terkait pengumpulan data anak-anak tanpa persetujuan orang tua.

Apa Pelajaran untuk Pengguna dan Regulasi di Indonesia

Meskipun peristiwa ini terjadi di Kanada, Indonesia bisa belajar banyak dari penyelidikan ini. Berikut beberapa pelajaran dan langkah yang dapat dipertimbangkan:

  • Regulasi lokal: Indonesia memerlukan regulasi yang jelas terkait usia minimum penggunaan aplikasi media sosial, persetujuan orang tua, serta transparansi dalam pengumpulan dan penggunaan data pribadi anak.
  • Pendidikan literasi digital: Pengguna muda dan orang tua harus diberi pemahaman tentang hak-hak privasi, bagaimana aplikasi memanfaatkan data mereka, dan bagaimana mengenali penggunaan data yang tidak pantas.
  • Pengawasan dari lembaga pemerintah: Seperti Kominfo dan lembaga perlindungan data, bisa mengawasi aplikasi asing yang beroperasi di Indonesia dan mewajibkan perusahaan asing untuk mematuhi standar perlindungan anak.
  • Fitur kontrol pengguna: Aplikasi harus memudahkan orang tua atau pengguna muda untuk mengatur pengaturan privasi, melihat data apa yang dikumpulkan, dan meminta penghapusan data bila perlu.

Tantangan yang Masih Harus Dijawab

Meski TikTok telah menyanggupi banyak rekomendasi, ada tantangan besar yang masih ada:

  • Verifikasi usia yang efektif: Verifikasi usia sering kali dihindari atau dipalsukan; metode yang digunakan oleh banyak aplikasi masih bisa dielak.
  • Penegakan hukum & audit independen: Memastikan bahwa jawaban dan perbaikan dari perusahaan tidak hanya “di atas kertas”, tetapi diterapkan dan diaudit secara independen.
  • Konsistensi global: Pengguna di satu negara tetap bisa terkena praktik buruk karena kebijakan perusahaan yang bersifat global. Regulasi lokal harus dapat mempengaruhi praktik internasional perusahaan.
  • Perubahan kebijakan iklan: Bisnis model aplikasi seperti TikTok sangat bergantung pada pendapatan iklan. Membatasi iklan yang ditargetkan untuk anak-anak bisa mengurangi profit, sehingga perusahaan mungkin lambat dalam menerapkan perubahan.

Penutup

Penyelidikan di Kanada mengungkap bahwa meskipun TikTok menyatakan bahwa platformnya tidak diperuntukkan bagi anak-anak di bawah 13 tahun, kenyataannya banyak anak tetap dapat menggunakannya. Selain itu, data mereka dikumpulkan, diprofil, dan digunakan dalam cara yang dianggap tidak memadai oleh para lembaga privasi di Kanada.

TikTok telah menyetujui beberapa langkah perbaikan verifikasi usia yang lebih baik, transparansi yang lebih besar, pembatasan iklan untuk pengguna muda, dan informasi privasi yang mudah diakses. Namun, sejauh mana langkah-langkah ini efektif diimplementasikan akan menjadi kunci.

Untuk pengguna di Indonesia, cerita ini menjadi pengingat bahwa privasi di dunia digital bukan hanya masalah teknis, melainkan juga masalah regulasi, edukasi, dan kewaspadaan.

farid

Recent Posts

Artificial Intelligence & How You Can Use It In Your Business

minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther sequat…

2 months ago

Artificial Intelligence & How You Can Use It In Your Business

Amet minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther…

2 months ago

Why Artificial Intelligence Has Become A New Fuzz?

Amet minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther…

2 months ago

How You Can Maintain Your Artificial Intelligence Strategies

If you're a company looking to implement AI technology, according to Deloitte's State of AI…

2 months ago

Why Artificial Intelligence Has Become A New Fuzz

Amet minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther…

2 months ago

How You Can Maintain Your Artificial Intelligence Strategies

Amet minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther…

2 months ago

This website uses cookies.