Flickta.com – 19 September 2025
Ketegangan antara Amerika Serikat dan China dalam bidang teknologi kembali memanas. Setelah bertahun-tahun bersaing dalam sektor perdagangan, kini pertarungan melebar ke dunia digital, chip semikonduktor, hingga media sosial. Dua nama besar yang jadi sorotan adalah TikTok dan Nvidia, yang terjebak di tengah pusaran politik global.
Sejak era perang dagang 2018, hubungan AS dan China memang tidak pernah benar-benar pulih. Jika sebelumnya yang jadi sorotan adalah tarif ekspor-impor, kini fokus beralih ke penguasaan teknologi mutakhir.
AS menilai dominasi teknologi China, terutama di bidang AI, aplikasi sosial, dan semikonduktor, bisa menjadi ancaman bagi keamanan nasional. Sebaliknya, China menuduh AS berusaha menghambat perkembangan industrinya dengan alasan politik.
Menurut laporan Reuters, TikTok dan Nvidia kini menjadi pion utama dalam “permainan catur” geopolitik ini.
TikTok, aplikasi berbagi video pendek milik ByteDance asal China, telah menjadi fenomena global dengan lebih dari 1,5 miliar pengguna aktif bulanan. Di AS saja, lebih dari 170 juta orang menggunakan TikTok setiap hari.
Namun, pemerintah AS menilai TikTok berisiko bagi keamanan data warganya. Kekhawatiran utama adalah kemungkinan data pengguna dikirim ke pemerintah China. Walaupun ByteDance berulang kali menyangkal tuduhan ini, tekanan politik terus meningkat.
Pada pertengahan 2025, Kongres AS bahkan mulai membahas rancangan undang-undang yang mewajibkan ByteDance untuk menjual kepemilikan TikTok kepada perusahaan AS. Jika tidak, aplikasi tersebut bisa dilarang beroperasi di negeri Paman Sam.
Langkah ini tentu memicu reaksi keras dari Beijing. Pemerintah China menyebut upaya AS sebagai bentuk diskriminasi yang merugikan perusahaan teknologi global.
Selain TikTok, Nvidia juga terkena dampak ketegangan ini. Perusahaan asal California tersebut dikenal sebagai pemimpin global dalam produksi chip grafis (GPU), yang kini menjadi tulang punggung pengembangan AI dan pusat data.
Sejak 2022, AS sudah membatasi ekspor chip canggih Nvidia ke China, terutama seri A100 dan H100, karena dianggap bisa memperkuat kemampuan AI militer Beijing. Pada 2025, regulasi semakin diperketat, bahkan mencakup produk terbaru seperti B200 Blackwell.
Dampaknya terasa signifikan. China adalah salah satu pasar terbesar bagi Nvidia, menyumbang hampir 20 persen pendapatan global. Dengan larangan ekspor ini, Nvidia berisiko kehilangan miliaran dolar pendapatan tiap tahun.
Sebagai respons, Nvidia berusaha mengembangkan varian chip “khusus” untuk pasar China, dengan performa yang sedikit diturunkan agar sesuai regulasi. Namun, langkah ini dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan raksasa teknologi Tiongkok seperti Baidu, Tencent, dan Alibaba.
Selain larangan ekspor, Nvidia juga menghadapi ancaman baru berupa penyelidikan antimonopoli dari regulator AS dan Uni Eropa. Dengan dominasi lebih dari 80% di pasar GPU AI, Nvidia dituduh memiliki “kekuatan pasar yang terlalu besar” dan berpotensi mematikan persaingan.
Meski kasus ini masih dalam tahap awal, banyak analis menilai bahwa langkah tersebut juga terkait dengan upaya pemerintah AS untuk mengendalikan dampak politik dari dominasi perusahaan teknologi besar.
Perseteruan teknologi AS dan China tidak hanya berdampak pada dua negara tersebut, tetapi juga ke seluruh dunia. Beberapa implikasi yang mulai terasa antara lain:
Konflik ini juga berdampak pada pasar saham global. Saham Nvidia sempat turun 8% setelah berita terbaru mengenai pembatasan ekspor chip diumumkan. Sebaliknya, beberapa perusahaan chip alternatif dari Korea Selatan dan Taiwan justru mencatat kenaikan.
Sementara itu, ByteDance yang masih perusahaan privat juga mengalami tekanan. Investor mulai khawatir jika TikTok benar-benar dilarang di AS, valuasi perusahaan bisa anjlok drastis.
China tidak tinggal diam. Pemerintahnya meluncurkan sejumlah inisiatif untuk memperkuat industri chip domestik. Beberapa perusahaan seperti SMIC dan Huawei didorong untuk mempercepat produksi semikonduktor lokal.
Huawei, misalnya, baru saja mengumumkan pembangunan AI supercluster Atlas 960, yang menggunakan chip buatan dalam negeri. Meski performanya masih kalah dibanding produk Nvidia, langkah ini dianggap penting untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi AS.
Di sisi aplikasi, China juga gencar memperkuat pengaruh platform lokal seperti Douyin, WeChat, dan Kuaishou agar bisa tetap mendominasi pasar domestik meskipun menghadapi tekanan global.
Banyak pakar menilai bahwa konflik ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Sebaliknya, dunia mungkin akan menyaksikan “Perang Dingin Teknologi” di mana kedua negara membangun ekosistem teknologi yang berbeda.
Persaingan teknologi antara AS dan China telah memasuki babak baru. TikTok terancam dilarang, Nvidia kehilangan pasar besar, dan regulasi semakin ketat. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga oleh dunia global yang semakin terhubung dengan teknologi.
Satu hal yang pasti: masa depan teknologi global tidak lagi hanya ditentukan oleh inovasi, tetapi juga oleh politik dan geopolitik. Pertarungan antara Washington dan Beijing bisa jadi akan membentuk ulang wajah industri teknologi untuk dekade-dekade mendatang.
minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther sequat…
Amet minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther…
Amet minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther…
If you're a company looking to implement AI technology, according to Deloitte's State of AI…
Amet minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther…
Amet minim mollit non deserunt ullamco est sit aliqua althrough dolor domet sint. Velit ther…
This website uses cookies.